Pages

Subscribe:

Klik di sini jika Anda menyukai Puisi saya

Pengikut

Senin, 18 Januari 2010

SAJAK CAH AYU..........


Aku menunggu sejam yang lalu dalam terik suci mentari hingga mengalunnya rintik sunyi hujan di sore itu. Kudengar hingga kunanti kereta senja yang datang di ufuk timur tiba. Aku pun tak tahu siapa dan mengapa diriku berada di sini dalam keheningan siluet senjamu. Dalam ruang-ruang dimensi atau wujud tiada hendaki cinta bernaung dalam gelora asmara di setiap jiwa anak cucu Adam diciptakan.

Genderang hati ini bertabuh dengan simfoni haru pilu, lalu hancurkan puing-�puing hati biru kelabu. Wujud dentuman ornamen melirih kian menderu, sendu, dalam tangisan nian syahdu.

Kucoba warnai hari-hariku bagai rona kehidupan cintaku. Mungkinkah asmara dalam raga bersenandung rindu harus malu pada hamparan luas lautan kian menebar emosi dan tetesan embun dalam hati pelangi biru di langit Lazuard.

Menatap indah cakrawala penuh harapan dan cinta di balik Gunung Fujiyama hanya bersama sosok indahmu. Kutorehkan namamu dalam hati bunga Edelwiss, lalu kulukis cantiknya parasmu dalam beribu ratapan sajak-sajak pelangi. Tepercik kata-kata mimpi, bersungging senyum dewi-dewi cinta. ''Akankah kau pergi tinggalkan diriku sendiri sehingga kau nanti kembali dalam ruang dan dimensi yang lain?'' tanyaku.

''Mungkin biarkan cinta bersemi dalam keabadian seiring ilusi waktu,'' sahut Rose seraya menatap pilu. Sontak aku terpana dan bergemuruh dalam ingar-bingar cintamu.

''Jangan engkau biarkan cinta bersemi dalam ilusi waktu,'' pintaku. ''Mengapa?'' sahutnya seraya memegang tanganku dalam indahnya cakrawala sore itu.

''Karena waktu kian sirna terempas dan tersungkur hingga tercabik prahara kenistaan,'' ujarku.

''Lalu harus dengan apa kubuktikan karena kusungguh mencintaimu dan cintaku tak bersayap seakan malaikat malu menatap keabadian cinta kita,'' pinta Rose penuh kebimbangan.

''Biarlah cinta turun bagai setetes embun dari beribu pelangi yang hiasi kehidupan cinta,'' ujarku singkat.

Kuempaskan kata bertakhta retorika itu dalam ruangan dimensi lain hingga waktu kian sirna dan musnah tersungkur luka. Tercabik prahara dusta, lalu tercekam badai durjana yang tak kunjung reda. Angin-angin sunyi mendendangkan ornamen cinta buatku nian pilu.

"Apa kau tahu, mengapa ombak datang menggema mengikis jiwa-jiwa yang hampa dan badai menyeruak luluh lantak, lalu memorak-porandakan raga-raga tak berdosa dalam siluet senjamu," ungkapku masih bimbanng.

Kupilin waktu tuk beranjak diam dalam heningnya malam dan galaunya hati, mengapa Tuhan kini tak kunjung bantu diriku.

Sang waktu terbungkam prahara kenistaan. Kini pujaan tinggal kenangan dan harapan adalah bualan. Kuhapus cinta setahap demi setahap, namun tak berarti. Kepedihan yang kian kurasa seolah kini tersingkir luka lebam tersedu sedan dalam angan. Namun, kini engkau hadir dan berikan puing-puing cinta dalam tutur lembutmu.

Kereta senja menanti tiap hela napasku, bergulir seiring terempasnya pujaan ke dalam retorika ilusi fatamorgana yang kini hanya tinggal kenangan. Sebuah cinta, hanya sebuah nama di hati.. Bulan pelita gundah gelisah di jiwa sehingga kutermanyun mimpi-mimpi dalam ingar-bingar ilusi. Kisah cintaku penuh penantian kata, dalam sorot sinarnya mulai sayup terangi bekunya hati ini. Pesonanya pahit tuk diterjang seakan tercabik sebilah parang yang tajam dan kejam. ''Mungkinkah sedihku kian meratapi dan menggaru biru kelabu?" ungkapku dalam ringkihan kebisuan.

Kereta senja menanti tiap hela napasku, kumeratap malu lalu embuskan ayat�-ayat cinta dalam napas terakhirku. Biarlah cinta sejati bersemi di hati, walau mata terbuka dan tertutup, cintaku kian abadi.

"Kuhapus air mata dalam duka, Kupejamkan mata dalam duka, Kuempaskan raga dalam elegi cintamu, dan Kurentangkan jiwa dalam sukma keabadian.. "

Harusnya kutahu, cinta kian turun seiring gemuruh hujan. Sosok dewi cinta menari-nari berdendang alunan simfoni indah sepanjang masa. Cinta tak mengenal perubahan karena perubahan itu merupakan perjanjian. Sayang, cinta tak mengenal perjanjian.

Kuharap kedamaian yang terpancar dari egomu memberikan sekelumit janji yang lebih indah diungkapkan dengan kebisuan. Beribu kata kian menjerit tuk diucapkan atau memang selalu ada hal indah yang terlupakan dan seharusnya lenyap terbakar egomu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PRIMBON RAMALAN JODOH

BackLink Site

SEO neXT | Free Backlinks Exchanges
Free BacklinksSERIBU KAWAN
2billiontraffic4uAGUS FAUZYANEKA VIDEOfreebanner4usatriopiningitseribukatamutiarakatamutiara4usehatwalafiahiniinfo4ubabulfatahartissexy17 bertaubatlahiklansahabatiklanseribuiklanwargaseribusayangmajelisrasulullahsangrajamayasurgaweb4905GOBLOGbloggratiss4usurgalokaFECEBLOG 4UISERBA SERBIBUSANA MUSLIMSENI LUKISTEMPLATE GRATISWARGA BISNISSERIBU KAWANUnlimited BacklinkFree Automatic LinkECBannerFree Automatic LinkFree Automatic LinkKostenlose Backlink AustauschFree Automatic LinkCrdenas.netFree BacklinksDAHOAM Free BacklinksFree BacklinksBacklink ExchangeMultiple BacklinksBacklink Exchange - PlugboardCalendario BiblicoFree Automatic LinkDie Gute SaatFree Automatic LinkFree Backlinks ExchangeFree Automatic Linkkostenlose backlinksFree Automatic Linkechange de liensFree Automatic LinkFree Automatic Link120x90 Plugboard Backlink ExchangeIntercambio de enlacesEnlaces GratisFree Automatic LinkFree Automatic LinkFree Automatic LinkFree Automatic LinkFree Automatic Elvira LinksFree Automatic LinkFree Automatic LinkIntercambio gratis de EnlacesFree BacklinksFree BacklinksFree BacklinksUnlimited Backlink ExchangeUnlimited Backlink ExchangeTradiciones Peruanas de Ricardo PalmaAutomatic Backlink ExchangeFree Automatic LinkPlugboard Free Backlink ExchangeFree Automatic LinkFree Automatic LinkMariachi Backlink ExchangeWeb Link ExchangeText Backlink ExchangesText Back Links ExchangeText Back Links Exchangesbedava - Free Backlink - www.linkdevi.combedava - Free Backlink - www.v8link.comLinkon Bedava - Free Backlink